Saya pertama kali tinggal di Jakarta April 2016. Waktu itu Apartemen saya ada di Kemang.
Saat itu saya punya bayi berusia 6 bulan dan seekor anjing.
Masalahnya terjadi sebulan kemudian, Mei 2016. Tiba-tiba anjing saya, namanya Tiara, muntah banyak dan tidak berhenti.
Waktu itu saya tidak punya mobil sendiri, jadi saya memutuskan untuk pakai taksi ke klinik hewan dengan bayi saya. Namun, taksi tidak bisa membawa anjing di dalam mobil.
Setelah beberapa saat, resepsionis apartmen saya memcarikan taksi untuk saya dan akhirnya saya bisa pergi ke klinik hewan.
Setelah saya sampai di klinik hewan dan dokter hewan memeriksa anjing saya,dia bilang “harus mengganti makanan anjing”. Lalu, dia kasih saya makanan yang baru.
Saya menyadari bahwa doktor hewan itu gila.
Teman saya, dia doktor hewan di Jepang membantu saya, dan kasih informasi jenis infus dan obat-obatan yang bisa diberikan ke anjing saya .Setelah itu, saya pergi ke klinik hewan yang lain.
Saya mengetahuli bahwa Indonesia memiliki sedikit obat untuk anjing dan kucing. Selain itu doktor hewan juga tidak memiliki ujian nasional.
Setelah diinfus beberapa jam, anjingku sembuh, tetapi saya tidak bisa percaya doktor hewan dan orang Indonesia. Saya memutuskan untuk melindungi diri saya sendiri.
Kejadian itu membuat saya menyadari bahwa saya tidak bisa pakai bahasa inggris di Jakarta, khususnya ke pengemudi. Oleh karena itu saya memutuskan belajar bahasa Indonesia untuk melindungi anak dan anjing saya.
Ini adalah alasan utama saya untuk belajar habasa Indoneshia.


